Showing posts with label conflict. Show all posts
Showing posts with label conflict. Show all posts

Saturday, December 12, 2009

RS Omni International Sepi Pasien



Bina Ratna, Direktur Utama RS Omni International
Direktur Rumah Sakit Omni Internasional, Bina Ratna tidak membantah ada penurunan jumlah pasien di rumah sakit tersebut. Namun dirinya yakin masih memiliki pelanggan setia yang tetap percaya dengan pelayanan rumah sakitnya.

Dalam jumpa pers yang digelar di Rumah Sakit Omni Internasional, Jumat 11 Desember 2009, Bina Ratna mengatakan, akan memaksimalkan pelayanan untuk memulihkan kepercayaan kepada masyarakat.

"Masih banyak pelanggan setia dan kami akan terus berupaya memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.


RS Omni International
Sementara itu, Aryanto salah seorang pasien di rumah sakit itu mengatakan, meski banyak pemberitaan buruk mengenai pelayanan di Rumah Sakit Omni, dirinya tidak merasa khawatir.

"Saya masuk sejak 3 Desember dan berusaha tetap percaya. Buktinya ada perkembangan baik dari penyakit saya," ujarnya saat ditemui VIVAnews.

Aryanto adalah pasien pada bagian syaraf yang berani masuk ke rumah sakit tersebut karena mendapat rekomendasi dari temannya. Dia menginap di ruang General VIP dan sejak pertama masuk, dirinya telah menghabiskan biaya lebih dari seratus juta rupiah.

"Saya mendapat rekomendasi dari teman. Pelayanannya baik," ujarnya lagi.

Perseteruan antara RS Omni Internasional dan Prita Mulyasari yang kembali memanas memberikan pukulan telak bagi rumah sakit yang berlokasi di Kota Tangerang itu.

Rumah sakit itu makin ditinggalkan pasiennya karena dianggap memberikan pelayanan yang kurang baik bagi pasiennya.

Pantauan VIVAnews baru-baru ini, rumah sakit terlihat lengang. Tidak banyak kendaraan yang terparkir di halaman rumah sakit tersebut. Hanya tampak beberapa mobil berjejer di lahan parkir depan rumah sakit dan kendaraan roda dua di parkir basemen.

Hari ini, Direktur Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang, Bina Ratna, menyatakan ingin berdamai dengan Prita Mulyasari. Mereka mencabut gugatan perdatanya serta menghapuskan kewajiban Prita membayar denda ganti rugi.

.

Kata saya:
Bisnis itu pelayanan, bukan begitu bozz...? Apalagi rumah sakit... :P

Sumber: Vivanews | Ilustrasi: Vivanews: , Okezone
Read full story

Wednesday, October 28, 2009

Video: Fasilitas Senjata Nuklir Israel Yang Tak Pernah Diinspeksi PBB

Comments
Israel adalah salah satu negara yang bersuara paling keras yang menyerukan pembatasan yang tegas pada program nuklir Iran, sementara selama ini tidak pernah ada inspeksi atau pemeriksaan terhadap kemampuan nuklir Israel.

Israel memiliki dua pusat penelitian nuklir - di Dimona dan Soreq. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa Israel telah memproduksi setidaknya 118 hulu ledak dengan senjata plutonium, di mana senjata seperti itu mampu dibawa menggunakan rudal balistik Jericho milik Israel.

Rudal bernama Jericho Satu, yang sekarang sudah usang, memiliki jangkauan 500 kilometer, dan bisa membawa hulu ledak nuklir seberat 20 kiloton - 20 kali lebih kuat daripada bom AS yang dijatuhkan di Hiroshima pada tahun 1945.

Jericho Dua memiliki jangkauan 1500 kilometer. Itu bisa mencapai Iran - dan diyakini dapat membawa satu megaton bom nuklir, yang artinya adalah 1.000 kali lebih kuat daripada bom Hiroshima.

Diyakini sebuah rudal Jericho Tiga sekarang sedang dikembangkan - yang akan dapat melakukan perjalanan sekitar 5.000 kilometer, sehingga jangkauannya mencakup keseluruhan area dari wilayah Iran sampai dengan benua Eropa.



Video




Kata saya:
Ayooo... sama-sama diperiksa... biar fair dan gak ada prasangka... :)

Sumber: Aljazeera | Ilustrasi: Aljazeera
Read full story

Monday, October 26, 2009

Video: Ledakan Dahsyat di Irak Tewaskan 132 Orang

Comments
Sedikitnya 132 orang tewas, dan 520 orang lainnya mengalami luka-luka dalam dua serangan bom mobil di pusat kota Baghdad. Ledakan ini menghantam gedung kementerian kehakiman, dan kantor pemerintahan daerah Bahgdad, di dekat zona Hijau, menyebabkan kerusakan parah.

Ledakan itu terjadi beruntun, sekitar pukul 10.30 pagi, di saat warga kota tersebut sedang menuju ke tempat kerja mereka.

Para wartawan mengatakan ini adalah serangan terbesar sejak 19 Agustus, ketika bom truk menghantam dua gedung kementerian dan menewaskan sedikitnya 100 orang.

Irak ketika itu menuduh pejuang asing, dan Suriah terlibat, dan meminta penyelidikan oleh PBB.

Perdana Menteri Nouri Maliki mengunjungi lokasi kejadian, dan kemudian mengeluarkan pernyataan menuduh Al-Qaeda dan pendukung mantan presiden Saddam Hussein di balik serangan.

"Serangan teroris pengecut ini tidak akan menghalangi tekad rakyat Irak untuk tetap melanjutkan perjuangan untuk menghancurkan sisa-sisa rejim lalu, dan juga teroris Al-Qaeda, yang melakukan tindakan brutal terhadap penduduk sipil," kata Maliki.

"Mereka ingin menciptakan kekacauan bagi bangsa ini, guna mengacaukan proses politik dan mencegah pemilihan umum."

Asap tampak membumbung tinggi di kawasan Baghdad, hari Minggu pagi setelah dua kendaraan yang penuh diisi bahan peledak meledak sedikit di luar Zona Hijau, daerah pusat pemerintahan yang dijaga ketat.

"Dinding perkantoran ambruk, dan kami harus keluar melarikan diri," kata Yasmeen Afdhal, seorang pegawai pemerintah berusia 24 tahun yang bekerja di Kantor Gubernur Baghdad kepada kantor berita AP.

"Mengapa mereka melakukan hal tersebut," teriak seorang pria di lokasi kejadian.

Para pejabat Irak mengatakan jumlah korban yang tewas dan terluka kemungkinan akan bertambah, di saat para petugas bantuan mencari korban di reruntuhan gedung.

Wartawan BBC Gabriel Gatehouse di Baghdad mengatakan dia bisa merasakan kuatnya ledakan pagi itu, meskipun dia berada beberapa kilometer jauhnya dari lokasi kejadian.

Wartawan kami menambahkan masih terlalu pagi untuk menduga-duga siapa di balik serangan tersebut. Namun dia mengatakan besar kemungkinan kelompok perlawanan atau pejuang asing akan dituduh mencoba mengacaukan situasi menjelang pemilihan umum di Irak pertengahan Januari.

Secara umum, kekerasan sudah menurun dramatis di Irak dibandingkan tahun lalu, namun serangan sporadis masih terus terjadi di beberapa bagian negeri itu.



Video




Kata saya:
Ngeri juga disana, sering banget serangan bom... :(
Semoga cepat tercapai perdamaian di Irak

Sumber: BBC | Ilustrasi: YouTube, BBC
Read full story

Saturday, September 19, 2009

Ahmadinejad: Holocaust hanya rekaan kaum Zionis Israel

Comments

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kembali melontarkan penyataan kontroversial bahwa peristiwa holocaust sesungguhnya tidak pernah ada. Holocaust, kata Ahmadinejad, hanya rekaan kaum Zionis untuk membenarkan berdirinya negara Israel.

Ahmadinejad menyampaikan hal itu dalam ceramah pada perayaan Quds Day (dirayakan pada Jumat terakhir dalam bulan Ramadhan) di Universitas Teheran, Jumat. Pernyataan terakhir Ahmadinejad itu kontan memicu kemarahan negara-negara Barat.

Holocaust merujuk pada tragedi pembantaian jutaan orang Yahudi oleh Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, holocaust adalah "sebuah kebohongan yang berdasarkan pada klaim yang tidak dapat dibuktikan dan dongeng". Menurut dia, holocaust hanyalah, "Dalih bagi terciptakan rezim Zionis. Itu palsu, itu sebuah kebohongan yang berdasarkan klaim tanpa bukti dan dongeng," katanya.

Sejumlah negara Eropa mengecam pernyataan Ahmadinejad tersebut. Jerman mengatakan, komentar tersebut merupakan sebuah aib. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) mengatakan akan mengisolasi Iran lebih lanjut.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Robert Gibbs, yang mengutip pesan Presiden Barack Obama bagi dunia Muslim, menegaskan penyangkalan terhadap holocaust sama sekali tidak berdasar, tidak berpengetahaun, dan penuh kebencian. "Mengemukakan kebohongan busuk seperti ini hanya akan mengisolasi Iran lebih jauh dari dunia lain," kata Gibbs.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier mengatakan, "Anti-semitisme menuntut kecaman kolektif kami. Kami akan terus melawan hal ini ke depan secara meyakinkan." Seorang juru bicara Menteri Luar Negeri Perancis mengatakan, pidato itu tidak dapat diterima dan mengejutkan, sementara Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband mengemukakan, penyangkalan itu menjijikkan. "Sangat penting bahwa komunitas dunia bersatu melawan hal-hal semacam ini," katanya.

.

Kata saya:
Semoga fakta yang sebenarnya bisa terungkap

Sumber: Kompas.com | Ilustrasi: Kompas.com
Read full story

Thursday, September 3, 2009

Universitas Ahmad Dahlan Hentikan Pengiriman Dosen ke Malaysia

Comments
Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, menghentikan pengiriman dosen untuk kuliah di Malaysia. Keputusan ini diambil karena kualitas pendidikan tinggi di Malaysia dinilai tidak lebih baik dari perguruan tinggi di Indonesia.

Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Kasiyarno menyatakan, pengambilan keputusan ini tidak ada kaitannya dengan sentimen negatif Indonesia-Malaysia yang timbul akhir-akhir ini.

”Keputusan kami ambil semata-mata berdasarkan evaluasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang menyebutkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia masih lebih baik daripada Malaysia,” tuturnya di Yogyakarta, Rabu (2/8).

Menurut Kasiyarno, keputusan ini berlaku mulai tahun ajaran 2009/2010 ini. UAD tidak lagi memberi ataupun menerima tawaran beasiswa dosen dari perguruan tinggi di Malaysia. Pendidikan dosen UAD selanjutnya akan dialihkan ke perguruan tinggi di Jepang, Australia, ataupun Eropa, serta sejumlah perguruan tinggi papan atas di Indonesia, di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, atau Universitas Diponegoro.

Selain itu, UAD juga berupaya meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dari negara lain, salah satunya dari China. Tahun ini Fakultas Bahasa dan Sastra UAD menerima 42 mahasiswa asal China dalam Program Sandwich yang rencananya berlangsung hingga lima tahun.


Kekhawatiran Pembajakan Ide

Sejauh ini Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V DI Yogyakarta belum menerima rekomendasi untuk menghentikan pengiriman dosen berkuliah di Malaysia.

”Namun, memang ada sejumlah laporan tentang kurangnya kualitas perguruan tinggi di Malaysia,” ujar Koordinator Kopertis Wilayah V DI Yogyakarta Budi Santosa Wignyosukarto.

Laporan tersebut di antaranya menyebutkan penyelenggaraan kelas jauh dan sejumlah dosen penerima beasiswa yang dimanfaatkan untuk mengajar di jenjang S-1 ataupun sebagai peneliti. Selain itu, ada pula kekhawatiran terjadinya pembajakan ide mahasiswa Indonesia.

Menurut Budi, kekhawatiran ini timbul dari banyaknya jurnal ilmiah internasional karya warga negara Indonesia, tetapi atas nama universitas Malaysia. ”Ini bisa merugikan. Ide penelitian mungkin dari pembelajarannya di Indonesia, tetapi yang mendapat nama internasional universitas di Malaysia itu,” ujarnya.

.

Kata saya:
Kalau cuma dibandingkan dengan Malaysia, kualitas pendidikan di sini masih lebih baik, kaleeee........!

Sumber: Kompas.com | Ilustrasi: Kompas.com
Read full story

Tuesday, September 1, 2009

Discovery Channel Tawarkan Indonesia Pembuatan Iklan Gratis Serupa Iklan Pariwisata Malaysia

Comments
Dari kasus penayangan gambar Tari Pendet pada bagian iklan televisi untuk program siaran delapan episode oleh Discovery Channel terkait promosi pariwisata Malaysia, Indonesia ditawari penayangan iklan serupa secara gratis.

"Pihak Discovery Channel sudah meminta maaf, sekaligus menawarkan program serupa untuk Indonesia secara gratis. Kami masih membicarakannya lebih lanjut perihal tawaran itu," kata Direktur Promosi Luar Negeri Depbudpar, I Gde Pitana, menjawab pertanyaan ANTARA di Sanur, Bali, Senin.

Di sela-sela menjadi pembicara pada kursus lanjutan program wisata konvensi, disebutkan bahwa reaksi yang muncul terlalu cepat, tanpa didasari pemahaman yang benar mengenai tersiarnya gambar Tari Pendet yang merupakan tarian khas Bali itu.

Meski begitu, pihak Discovery Channel mengaku bersalah, karena menyertakan gambar Tari Pendet tanpa menempuh prosedur meminta izin secara benar. "Karena kesalahannya itu, Discovery Channel kemudian menawarkan iklan serupa secara gratis," ucapnya.

Selain pihak Discovery Channel, Menteri Pariwisata Malaysia juga sudah menelepon Menbudpar Jero Wacik dan menyampaikan permohonan maaf, walaupun pihak Malaysia sebenarnya tidak mengklaim secara formal Tari Pendet sebagai karya budaya bangsanya.

Menurut Pitana yang biasa bergurau akrab dengan pers di Bali, pihaknya masih mempertimbangkan berapa episode program tayangan seni budaya dan pariwisata Indonesia yang akan diberikan oleh pihak Discovery Channel. "Ini perlu pertimbangan lebih lanjut. Kita tentu menginginkan tayangan yang lebih banyak. Lalau bagaimana dari sisi hukum, apakah lebih baik menerima tawaran itu atau cara lain, prosedur hukum misalnya?" ucapnya.

Ia berharap reaksi masyarakat Indonesia dalam kasus Tari Pendet itu tidak berlebihan, melainkan disampaikan secara benar dengan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dengan demikian diharapkan tidak justru menguras energi secara berlebihan tetapi reaksi yang muncul tidak tepat. "Kita tentu lebih baik menanggapi secara profesional dan mengedepankan intelektualitas. Kita tentu menginginkan yang produktif," kata Pitana.

Ia juga mengingatkan bahwa kesediaan Menteri Pariwisata Malaysia menelepon Menbudpar Jero Wacik dan menyampaikan permintaan maaf, harus dihargai sebagai sikap yang mau jujur dan tidak ingin ada masalah lebih besar.

Dengan memberikan reaksi yang tepat, diharapkan kasus Tari Pendet akan memberikan keuntungan dari sisi promosi pariwisata dan budaya Indonesia, misalnya dengan menerima tawaran pihak Discovery Channel tersebut, katanya.

.

Kata saya:
Boleh-boleh aja menawarkan pembuatan iklan gratis.
Tapi bagaimana pun, proses hukum seharusnya tetap ditegakkan,
sebagai pembelajaran pada pihak-pihak terkait supaya tidak terjadi lagi hal seperti itu di masa depan.

Sumber: AntaraNews | Ilustrasi: (link)
Read full story

Saturday, August 29, 2009

Wilayah Indonesia Diklaim Warga Timor Leste

Comments
Soal klaim wilayah Indonesia, ternyata bukan hanya dilakukan oleh Malaysia, tetapi juga oleh Timor Leste, negara yang baru berdiri sejak lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1999. Klaim wilayah Indonesia ini dilakukan oleh sebagian warga Timor Leste tepatnya di perbatasan wilayah Timor Leste dengan wilayah Indonesia, yaitu perbatasan antara Kabupaten Timor Tengah Utara (RI) dengan Timor Leste.

Permasalahan perbatasan antara RI dan Timor Leste itu kini sedang dalam rencana untuk dikoordinasikan antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Timor Leste dan kemungkinan akan dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendapatkan penyelesaian.



Raja Amfoang, Robi Manoh mendesak pemerintah Indonesia segera menyelesaikan batas wilayah di Natuka, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan pemerintah Timor Leste.

"Natuka adalah wilayah kita (Indonesia) dan dinyatakan sebagai zona bebas oleh kedua negara. Namun, rakyat Oecusse tetap mengklaim sebagai wilayah daratan Timor Leste sehingga menyerobot masuk sampai sejauh lima kilometer untuk berkebun di dalamnya," kata Raja Manoh di Kupang, Minggu.

Atas dasar itu, ia mendesak pemerintah Indonesia segera melakukan perundingan dengan Timor Leste untuk segera menyelesaikan batas wilayah antarkedua negara di Natuka, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, NTT itu guna mencegah terjadinya konflik antara rakyat Amfoang dengan masyarakat Oecusse di wilayah kantung (enclave) Timor Leste.

Raja Manoh berpendapat, untuk menyelesaikan batas wilayah tersebut, pemerintah harus melibatkan raja-raja di Timor seperti raja Amfoang, Timor Tengah Utara, Atambua dan raja Ambeno. "Jika diselesaikan secara administratif pemerintahan antara kedua negara, saya optimistis wilayah tersebut akan jatuh ke tangan Timor Leste. Karena itu, para raja di Timor juga harus dilibatkan," katanya.

Ia mengungkapkan, batas wilayah yang sebenarnya antara RI-Timor Leste adalah Tepas, karena di tempat itulah dijadikan sebagai tempat pertemuan antara Raja Ambeno Oecusse dengan Raja Amfoang. "Raja Ambeno Oecusse sudah mengakui bahwa wilayah Natuka adalah milik Indonesia, namun sudah diserobot masuk oleh penduduk Oecusse untuk berkebun. Ini sudah tidak benar lagi," katanya menegaskan.

Manoh menjelaskan, batas wilayah yang diserobot penduduk Oecusse dan diklaim sebagai daratan Timor Leste itu, karena mengacu pada batas wilayah provinsi yang ditetapkan ketika Timor Leste masih menjadi bagian dari provinsi ke-27 Indonesia.

"Guna menghindari terjadinya konflik di tapal batas, kami harapkan pemerintah Indonesia dan Timor Leste segera berunding untuk menyelesaikan batas wilayah kedua negara di Natuka," katanya. "Masyarakat kami di sana (Amfoang) sudah menyatakan siap berperang melawan warga Oecusse jika persoalan tapal batas tidak segera diselesaikan oleh kedua negara," tambahnya.



Masalah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste, khususnya di lima titik yang hingga kini belum diselesaikan akan dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lima titik tersebut adalah Imbate, Sumkaem, Haumeniana, Nimlat, dan Tubu Banat, yang memiliki luas 1.301 hektare (ha) dan sedang dikuasai warga Timor Leste. Tiga titik diantaranya terdapat di perbatasan Kabupaten Belu dan dua di perbatasan Timor Leste dengan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

"Lima titik yang belum final tersebut masih menunggu mediasi yang dilakukan PBB bersama pemerintah RI dan Timor Leste," kata Asisten Pemerintahan dan Kesejateraan Rakyat Setda Nusa Tenggara Timur (NTT), Yoseph Aman Mamulak usai menghadiri pertemuan membahas persoalan perbatasan yang digelar Lantamal VII Kupang di Kupang, Kamis.

Dia mengatakan, berlarutnya penyelesaian lima titik di perbatasan tersebut mengakibatkan penetapan batas laut kedua negara belum bisa dilakukan. "Bagaimana kita menetapkan batas laut, kalau darat saja belum selesai," katanya.

Di lima titik tersebut, ada dua hal yang belum disepakati warga dari kedua negara yakni penetapan batas apakah mengikuti alur sungai terdalam, dan persoalan pembagian tanah. "Tanah yang dipersoalkan di perbatasan merupakan tanah ulayat yang menurut warga tidak boleh dipisahkan," katanya.

Semula, kata Mamulak, pemerintah Indonesia dan Timor Leste sepakat batas kedua negara adalah alur sungai terdalam, tetapi tidak disepakati warga, karena alur sungai selalu berubah-ubah. "Terkadang alur sungai masuk lebih jauh ke wilayah Indonesia, tetapi kadang masuk ke wilayah Timor Leste," katanya.

Selain itu, ternak milik warga di perbatasan tersebut minum air di sungai yang berada di tapal batas kedua negara. Jika sapi melewati batas sungai terdalam, warga tidak bisa menghalaunya kembali, karena melanggar batas negara.

Dia mengatakan, warga kedua negara yang bermukim di perbatasan harus rela membagi tanah ulayat mereka, karena menyangkut persoalan batas negara. "Penyelesaian masalah perbatasan bisa dilakukan dengan adat setempat, "katanya.



Departemen Luar Negeri (Deplu) menyurvei daerah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste, terutama di lima titik yang masih menjadi sengketa. "Kami datang untuk mengumpulkan data di daerah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste," kata ketua tim survei Deplu, Dodie Herado, setelah bertemu dengan Pemerintah Provinsi NTT di Kupang, Rabu.

Lokasi yang akan di survei adalah lima titik batas negara antara Indonesia dan Timor Leste yang belum terselesaikan, yakni Imbate, Sumkaen, Haumeniana, Nilulat dan Tubana antara Oecusse dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Hasil survei ini, katanya, akan disampaikan ke Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda, yang selanjutnya akan disampaikan ke DPR untuk dikoordinasikan dengan Pemerintah Timor Leste untuk menetapkan batas wilayah.

Survei antara lain menyangkut masalah keamanan di perbatasan, karena berdasarkan laporan yang masuk ke Deplu, aparat di perbatasan kesulitan mengamankan perbatasan karena minimnya anggaran. "Kami juga akan melihat sarana-prasarana bagi aparat keamanan yang berada di perbatasan, seperti gedung dan lainnya," katanya.

Tim ini, lanjut dia, juga akan memantau pelintas batas yang berkunjung ke Timor Leste maupun Indonesia. Pelintas batas antara kedua negara tersebut harus disiapkan kartu identitas. Selain itu, tim juga akan mencermati penangkapan terhadap warga Indonesia di Timor Leste, seperti yang dialami oleh Sekretaris Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Belu yang ditangkap aparat keamanan Timor Leste beberapa waktu lalu. "Kami juga mendapat infomasi bahwa warga Indonesia ditangkap di Timor Leste. Hal itu juga akan kami cermati untuk dilaporkan," katanya.

Hasil survei ini, tambah dia, juga akan digunakan untuk meminimakan akses di perbatasan antara kedua negara, terutama di perbatasan antara masyarakat Oecusse dan Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang yang telah terjadi penyerobotan lahan. Langkah itu untuk menghindari kemungkinan terjadi konflik antara masyarakat di perbatasan.

Menyangkut penyelesaian batas wilayah, ia mengatakan harus melibatkan masyarakat adat di perbatasan. Karena itu, pihaknya juga akan menerima rekomendasi dari masyarakat adat di perbatasan untuk menyelesaian masalah perbatasan antara kedua negara. "Masyarakat adat di perbatasan antara kedua negara perlu dilibatkan, tapi keterlibatan mereka tidak secara langsung," katanya.


Peta Google Map



Kata saya:
Wow... ternyata masalahnya lebih kompleks,
karena melibatkan 'wilayah adat' masyarakat setempat.
Semoga bisa didapatkan penyelesaian yang adil buat semuanya... :D

Sumber: AntaraNews | Ilustrasi: (link)
Read full story

Thursday, August 27, 2009

Undip Semarang Tidak Menerima Mahasiswa Baru Asal Malaysia

Comments
Ada sebuah berita yang cukup menarik yang dimuat di situs resmi salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Di dalam sebuah kolom News bertajuk "Undip Fokus Pada Mahasiswa Dalam Negeri" dengan jelas disebutkan pada tahun ajaran 2009-2010 ini, Undip tidak menerima atau menolak mahasiswa baru asal Malaysia, sebagai sebuah wujud rasa nasionalisme, sekaligus untuk menjaga harkat dan martabat bangsa yang selama ini sering tidak dihargai oleh Malaysia.

Berikut ini adalah kutipannya.

Tuesday, 25 August 2009 09:44

Undip Fokus Pada Mahasiswa Dalam Negeri

Semarang, undip.ac.id Pada tahun penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2009 Universitas Diponegoro Semarang tidak lagi menerima mahasiswa Malaysia

Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Undip, Prof. Dr. dr. Susilo Wibowo, MS. Med, Sp. And pada saat menerima mahasiswa baru tahun ajaran 2009 di Undip Sport Stadium Tembalang pada 25 Agustus 2009. kebijakan tersebut sebagai salah satu bentuk nyata Undip pada upaya untuk menjaga harkat dan martabat bangsa yang selama ini sering tidak di hargai oleh Malaysia. Upaya untuk tidak menerima lagi mahasiswa Malaysia tersebut juga menjadi bentuk dan cara Undip mengekspresikan nasionalisme, selain itu juga disebabkan karena beberapa mahasiswa Malaysia yang belajar di Fakultas Kedikteran Undip ternyata tidak menunjukkan prestasi yang bagus.

Menurut Kahumas Undip, Agus Naryoso, pada upacara pembukaan rektor menegaskan bahwa kegembiraan dan kebanggaan bagi Undip menerima anak-anak bangsa yang berkualitas, memiliki kualitas yang bagus yang dapat masuk dan menjadi bagian dari keluarga besar Undip, komitmen dan tekad Undip untuk selalu memberikan layanan pendidikan yang sebaik-baiknya bagi mahasiswa sehingga dapat terus belajar meningkatkan dan mengembangkan prestasi. Berbagai fasilitas penunjang sudah disiapkan bagi mahasiswa baru Undip sehingga bisa belajar dengan nyaman dan baik. fasilitas tersebut adalah Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) yang terdiri dari 4 Unit dimana setiap unitnya akan mampu menampung 252 mahasiswa sehingga secara keseluruhan 1.008 mahasiswa. pada tahun ajaran baru ini sudah siap ditempati 1 unit rusunawa. sementara pada tahun 2010 mahasiswa yang belajar di Undip juga akan mendapatkan jaminan kesehatan yang lebih baik dengan di bangunnya Rumah Sakit di Kampus Tembalang serta bendungan sebagai sarana rekreasi mahasiswa. sedangkan kampus sebagai trempat perkuliahan dari tahun ke tahun ke tahun terus dibenahi dan pada tahun 2010 Undip akan menjadi kampus terpadu dengan berpindahnya Fakultas Hukum, Ekonomi, ISIP, dan Ilmu Budaya ke kampus tembalang.

(dan seterusnya...)

Walaupun demikian, ketika disinggung tentang kerja sama yang sering dilakukan Undip dengan perguruan tinggi di Negeri Jiran (Malaysia) tersebut, sang rektor mengatakan, untuk kerja sama memang masih ada yang dilakukan. Namun, kata dia, kerja sama tersebut dilakukan untuk menyerap ilmu dan teknologi yang dimiliki untuk dimanfaatkan dan dikembangkan di Indonesia, berbeda dengan penerimaan mahasiswa.

Karena itu, untuk penerimaan mahasiswa yang berasal dari Malaysia, pihaknya memutuskan untuk tidak melakukannya lagi, setidaknya dapat dilihat dalam penerimaan mahasiswa baru pada tahun ini.

Sementara itu, Kepala Humas Undip, Agus Naryoso juga membenarkan hal tersebut.

"Dulu, mahasiswa Malaysia banyak yang belajar di FK Undip, namun untuk saat ini sudah tidak ada lagi mahasiswa baru dari Malaysia," katanya. "Kalau mahasiswa Malaysia yang sudah masuk sebelum tahun ini memang masih ada, dan mereka tetap diberi kesempatan untuk menyelesaikannya, namun mahasiswa baru tidak ada lagi," kata Agus.


Perkembangan Isu Klaim Tari Pendet oleh Malaysia

Sementara itu, mengenai isu klaim tari pendet oleh pihak Malaysia yang saat ini sedang hangat  dibicarakan, pihak-pihak terkait di sana terkesan saling 'lempar bola', seperti terlihat pada video berikut ini.


.

Kata saya:
Wow... sebuah keberanian tersendiri, sebuah lembaga resmi menyatakan penolakan seperti itu, yang mungkin saja bisa berakibat panjang.
Salut deh... :D

Read full story

Sunday, August 16, 2009

Hamas Memerangi Al-Qaeda

Comments
Kelompok Hamas yang selama ini dianggap sebagai kaum teroris dan ekstrimis oleh dunia barat, ternyata dinilai masih kurang ekstrim oleh kelompok lainnya di Jalur Gaza, Palestina. Sebuah kelompok yang menamakan dirinya Jund Ansar Allah yang terinspirasi dari Al-Qaeda termasuk kelompok yang sangat kritis terhadap Hamas.

Kelompok ini terlibat baku tembak dengan kelompok Hamas selama berjam-jam di Gaza pada hari Sabtu (15/8). Hamas memang berniat membasmi kelompok-kelompok yang berbau Al-Qaeda.

Sedikitnya 24 orang tewas dalam penggerebekan yang dilakukan oleh kelompok Hamas terhadap kelompok Jund Anshar Allah termasuk pemimpin kelompok Islamis radikal tersebut. Abdul-Latif Moussa (fotonya terlihat pada ilustrasi, sedang didampingi oleh dua pengawalnya) meninggal dalam sebuah ledakan, kata para pejabat setempat, tetapi tidak jelas apakah dia yang meledakkan diri.

Pada hari Jumat (14/8), Hamas yang menguasai Jalur Gaza, melancarkan operasi penggerebekan berdarah terhadap kelompok bernama Jund Ansar Allah itu, setelah kelompok tersebut menyatakan Gaza sebagai sebuah "Emirat Islam". Banyak orang yang terluka dalam serangan di sebuah masjid di Rafah dekat perbatasan dengan Mesir itu.

Pertempuran berlangsung selama tujuh jam dan berakhir sekitar tengah malam pada hari Jumat. Para pengikut kelompok itu mengatakan, Abdul Latif-Moussa meledakkan diri di tengah kerumunan polisi Hamas, tetapi Hamas menyangkalnya.

Enam pejuang Hamas, termasuk seorang komandan senior, dan seorang warga sipil, tewas. Orang-orang lainnya yang tewas adalah para anggota Jund Ansar Allah. Sekitar 120 orang luka-luka dan sebagian dalam kondisi kritis, demikian dilaporkan wartawan BBC Rushdi Abu Alouf.

Baku tembak terjadi setelah dalam ceramah Jumatnya Abdul-Latief Moussa mendeklarasikan Gaza sebagai sebuah "Emirat Islam", diikuti oleh ratusan pendukungnya. Para saksi mata mengatakan ratusan pejuang dan polisi Hamas kemudian menyerbu masjid tempat para pengikut ulama radikal itu bertahan. Mereka menembakkan granat berpeluncur roket.

Hamas mengatakan satu granat yang ditembakkan dari masjid itu menewaskan seorang pejuang mereka. Korban jiwa lainnya adalah orang-orang bersenjata, dan seorang anak juga terbunuh.

Abdul-Latif Moussa, dan para pendukung bersenjata sebelumnya bersumpah akan bertempur sampai mati ketimbang menyerahkan penguasaan masjid itu kepada Hamas. Jund Anshar Allah menjadi terkenal dua bulan lalu ketika mereka melancarkan serangan tetapi gagal terhadap pintu perbatasan antara Gaza dan Israel.

.

Kata saya:
Semoga suatu saat perdamaian menjadi kenyataan di Palestina dan Timur Tengah

Sumber: Kompas.com | Ilustrasi: Kompas.com
Read full story

Thursday, July 30, 2009

Facebook Blokir Halaman Fans Pemimpin Hamas

Comments
Facebook sudah beberapa kali melancarkan pemblokiran karena berbagai sebab. Tak perlu jauh-jauh, di Indonesia halaman milik Prabowo Subianto pun diblokir.

Ternyata, kasus Prabowo bukan satu-satunya. Halaman penggemar yang didekasikan bagi salah satu pimpinan organisasi Hamas, Ismail Haniyeh, pun diblokir oleh situs buatan Mark Zuckerberg.

Dikutip detikINET dari Jerusalem Post, Selasa (28/7/2009), Haniyeh menjabat sebagai Perdana Menteri Hamas di Gaza. Sebelum ditutup, fan page tersebut telah meraup lebih dari 10 ribu penggemar.

Pihak Facebook sendiri tak mengeluarkan pernyataan resmi mengapa mereka 'menghabisi' halaman penggemar Haniyeh. Salah satu pengurus halaman penggemar itu menengarai, perlakuan serupa disinyalir bakal diterapkan untuk fans page Facebook pimpinan Hamas lainnya.

Konon hal itu dilakukan atas tekanan Israel dan Amerika Serikat terhadap Facebook. Situs jejaring sosial itu dituding menuruti permintaan untuk membatasi ruang gerak pejuang Palestina di internet.

Pihak Facebook pun kebanjiran protes yang menuntut fan page Haniyeh dibuka kembali dengan alasan kebebasan berpendapat.

Namun demikian, pemblokiran ternyata tidak menimpa semua akun Facebook yang ditujukan untuk mendukung Haniyeh. Beberapa fan group Haniyeh kedapatan masih beroperasi di situs jejaring sosial ini.

Kata saya:
Sebenarnya, kebebasan berekspresi itu punya siapa aja sih? :lol:

Sumber: detikInet
Read full story

Tuesday, July 28, 2009

Pelaku Pengubur Hidup-hidup Muslim Bosnia Dijatuhi Hukuman

Comments
Denhaag - Dua saudara sepupu Serbia Bosnia, Milan Lukic dan Sredoje Lukic, dihukum oleh pengadilan kejahatan perang Yugoslavia Senin karena mengubur puluhan Muslim Bosnia hidup-hidup dalam perang 1992-1995.

Milan Lukic, 41, yang para penuntut katakan memimpin sebuah kelompok paramiliter Serbia "Garuda Putih" atau "Penuntut Balas", dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan di Den Haag itu karena pembunuhan sedikitnya 119 orang Bosnia dalam dua insiden pada Juni 1992.

Sredoje Lukic, 48, yang didakwa sebagai anggota unit itu, diganjar 30 tahun penjara. Pengadilan itu memutuskan mereka belum membuktikan bahwa ia hadir pada salah satu serangan tersebut.

Kedua pria itu mengaku tidak bersalah terhadap semua tuduhan dan mengatakan mereka tidak hadir di kota Visegrad di Bosnia timur pada waktu kejahatan tersebut dilakukan. Pengacara mereka telah minta pembebasan mereka.

"Tindakan kejahatan oleh Milan Lukic dan Sredoje Lukic dalam kasus ini digolongkan dengan sikap tak peduli pada kehidupan manusia dengan tak berperasaan dan keji," hakim Patrick Robinson mengatakan.

Pengadilan itu menemukan sekitar 59 orang Muslim Bosnia yang dikubur hidup di sebuah rumah yang dibakar dengan gas dan bahan peledak, sementara sedikit-dikitnya 60 orang tewas setelah dibarikade di dalam sebuah rumah lainnya sebelum granat dilemparkan ke bangunan itu.


Hakim Robinson mengatakan pengadilan menyatakan Milan Lukic bersalah dalam dua insiden itu, dan menambahkan ia memainkan peran dominan dalam serangan di mana ia sendiri yang menutup pintu salah satu rumah tersebut, membakarnya dan menembak orang yang berusaha untuk lari.

Pengadilan itu mendapati Sredoje Lukic tidak hadir pada insiden kedua, tapi kehadirannya pada insiden yang pertama "telah menyumbang secara substansial pada kematian-kematian tersebut" meskipun faktanya ia tidak membakar rumah itu atau menembak korban.

Bakira Hasecic, presiden kelompok bantuan "Wanita-Korban Perang", mengatakan ia mengharapkan kedua pria itu akan diadili oleh pengadilan kejahatan perang Bosnia karena pengadilan di Den Haag belum menuntut pemerkosaan dan penganiayaan yang dilakukan dua orang tersebut.

"Mereka (pengadilan itu) hanya memusatkan perhatian pada kejahatan yang paling menyeramkan tapi hal itu hanya lima persen dari semua kejahatan yang mereka lakukan," kata Hasecic, yang diriya adalah korban pemerkosaan dalam perang tersebut.


Milan Lukic dihukum dengan 21 tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran undang-undang atau aturan perang, termasuk pembunuhan, tindakan tidak manusiawi, perlakuan kejam dan pemusnahan. Sredoje dihukum berdasar tujuh tuduhan.

Milan Lukic juga terbukti menembak dan membunuh 12 pria Muslim Bosnia di pinggir sungai Drina.

Setelah tujuh tahun dalam pelarian, ia ditangkap di Argentina pada Agustus 2005. Sredoje menyerahkan diri pada pemerintah Serbia Bosnia pada bulan berikutnya. Pengadilan mereka dimulai tahun lalu.

Ini adalah foto Milan and Sredoje Lukić (klik gambar untuk memperbesar)


Kata saya:
Perang memang selalu membawa kesengsaraan :(

Sumber: Antara News
Read full story

Tuesday, June 23, 2009

Timor Leste Juga Serobot Wilayah Indonesia

Comments
Raja Amfoang, Robi Manoh mendesak pemerintah Indonesia segera menyelesaikan batas wilayah di Natuka, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan pemerintah Timor Leste.

"Natuka adalah wilayah kita (Indonesia) dan dinyatakan sebagai zona bebas oleh kedua negara. Namun, rakyat Oecusse tetap mengklaim sebagai wilayah daratan Timor Leste sehingga menyerobot masuk sampai sejauh lima kilometer untuk berkebun di dalamnya," kata Raja Manoh di Kupang, Minggu.

Atas dasar itu, ia mendesak pemerintah Indonesia segera melakukan perundingan dengan Timor Leste untuk segera menyelesaikan batas wilayah antarkedua negara di Natuka, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, NTT itu guna mencegah terjadinya konflik antara rakyat Amfoang dengan masyarakat Oecusse di wilayah kantung (enclave) Timor Leste.

Raja Manoh berpendapat, untuk menyelesaikan batas wilayah tersebut, pemerintah harus melibatkan raja-raja di Timor seperti raja Amfoang, Timor Tengah Utara, Atambua dan raja Ambeno.

"Jika diselesaikan secara administratif pemerintahan antara kedua negara, saya optimistis wilayah tersebut akan jatuh ke tangan Timor Leste. Karena itu, para raja di Timor juga harus dilibatkan," katanya.

Ia mengungkapkan, batas wilayah yang sebenarnya antara RI-Timor Leste adalah Tepas, karena di tempat itulah dijadikan sebagai tempat pertemuan antara Raja Ambeno Oecusse dengan Raja Amfoang.

"Raja Ambeno Oecusse sudah mengakui bahwa wilayah Natuka adalah milik Indonesia, namun sudah diserobot masuk oleh penduduk Oecusse untuk berkebun. Ini sudah tidak benar lagi," katanya menegaskan.

Manoh menjelaskan, batas wilayah yang diserobot penduduk Oecusse dan diklaim sebagai daratan Timor Leste itu, karena mengacu pada batas wilayah provinsi yang ditetapkan ketika Timor Leste masih menjadi bagian dari provinsi ke-27 Indonesia.

"Guna menghindari terjadinya konflik di tapal batas, kami harapkan pemerintah Indonesia dan Timor Leste segera berunding untuk menyelesaikan batas wilayah kedua negara di Natuka," katanya.

"Masyarakat kami di sana (Amfoang) sudah menyatakan siap berperang melawan warga Oecusse jika persoalan tapal batas tidak segera diselesaikan oleh kedua negara," tambahnya.

.

Kata saya:
Weleh... Wilayah Indonesia ternyata jadi rebutan :(
Musti dijaga ketat tuh...

Sumber: AntaraNews | Ilustrasi: (link)
Read full story

Saturday, June 13, 2009

Perguruan Tinggi Negeri Di Indonesia Sepakat Tidak Menerima Mahasiswa Baru Asal Malaysia

Comments
JAKARTA, KOMPAS.com- Para rektor perguruan tinggi negeri (PTN) sepakat tidak menerima mahasiswa baru asal Malaysia pada Seleksi Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN) tahun ajaran 2009 karena menilai sikap lembaga pendidikan tinggi di Malaysia merendahkan mahasiswa Indonesia.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Herry Suhardiyanto MSc mengatakan, kesepakatan tersebut hanya untuk calon mahasiswa asal Malaysia yang akan mengikuti SMPTN saja, sedangkan melalui jalur lainnya tetap terbuka.

"Penolakan PTN di Indonesia karena kami saat ini belum siap menerimanya dan para rektor tengah mengkaji kembali," kata Herry Suhardiyanto, Jumat (12/6) malam.

Menurut dia, penolakan terhadap calon mahasiswa asal Malaysia tersebut tidak selamanya, tapi akan dievaluasi lagi untuk tahun ajaran berikutnya. Ketidaksiapan PTN di Indonesia, kata dia, antara lain karena sikap dari lembaga pendidikan tinggi di Malaysia yang dinilai merendahkan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya Fakultas Kedokteran.

Mahasiswa kedokteran Indonesia yang akan melanjutkan pendidikan di Malaysia harus diseleksi atau tes lebih dulu melalui sebuah lembaga pendidikan. "Jika seleksi atau tes dari lembaga tersebut menyatakan mahasiswa kedokteran Indonesia tidak layak, maka tidak bisa melanjutkan pendidikan di Malaysia," katanya.

Menurut dia, karena itu para rektor PTN sepakat tidak menerima calon mahasiswa baru asal Malaysia melalui SMPTN tahun ajaran 2009, sedangkan melalui jalur lainnya tetap terbuka.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Depdiknas) Fadli Jalal ketika dikonfirmasi hal ini mengatakan belum tahu karena belum menerima laporan. "Saya belum bisa memberikan pernyataan, tapi akan mengecek kabar ini ke forum rektor apakah benar argumen tersebut," katanya.

Kalau pun ada ketersinggungan dari para rektor PTN, kata dia, akan saya cek apa penyebabnya dan bagaimana persoalan sebenarnya. Informasi yang diterima, sebanyak 56 rektor PTN sepakat tidak menerima mahasiswa baru asal Malaysia pada tahun ajaran 2009.

Sumber: Kompas.com


Read full story

Wednesday, June 3, 2009

Tulisan Prita Mulyasari Di Suara Pembaca

Comments
Berikut ini adalah tulisan Ibu Prita Mulyasari, seorang mantan pasien RS. Omni International, seperti yang dimuat di Suara Pembaca situs Detik.com


Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB
RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif
Prita Mulyasari - suaraPembaca

Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600



Read full story
 

Subscribe

ZonS Hot News
Add to Technorati Favorites Join My Community at MyBloglog! News & Media Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Followers

Statistics








zonsNews © 2009 | Business Ads Ready is Designed by Ipiet Supported by Tadpole's Notez